BUKU ADALAH JENDELA DUNIA

Peran buku sangat penting untuk memajukan bangsa, karena dengan membaca buku-buku yang bermanfaat dapat meningkatkan kecerdasaan, kreatifitas, dan tanggap akan keadaan yang terjadi di sekitarnya.

BUKU SEKOLAH DASAR (SD)

Kumpulan buku-buku yang dipergunakan dalam belajar mengajar di tingkat Sekolah Dasar (SD).

BUKU SD KURIKULUM 2013 TAHUN 2014

Kumpulan buku-buku SD Kelas 1, 2, 4 dan 5 Kurikulum 2013 Tahun 2014.

BUKU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Kumpulan buku-buku yang dipergunakan dalam belajar mengajar di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

" SELAMAT DATANG DI KUMPULKAN BUKU-BUKU PELAJARAN, SEMOGA BERMANFAAT - SALAM HANGAT DARI KAMI HANI DAN BUNGA "

Buku Adalah......



Buku Sumber Ilmu yang Tak Pernah Kering
Dari waktu ke waktu manusia haus akan ilmu, karena itu mereka membacanya untuk memuaskan rasa keinginan tahuannya terhadap lingkungan disekitarnya.


Buku Adalah Jendela Dunia
Tanpa buku, tanpa membaca, bayangkan betapa datar dan sempitnya dunia kita, dengan membaca buku setiap orang mengetahui apa yang terjadi dengan kemajuan dan perkembangan di seluruh dunia. 


Buku Adalah Teman Terbaik

Bukuku adalah sahabatku yang akan selalu menyertaiku
Walaupun hartaku sedikit dan ketampananku sirna
Bukuku adalah ayah dan ibuku tercinta
Keduanya terwakili olehnya,
walaupun ayah dan Ibuku tiada

Bukuku adalah teman duduk terbaikku yang tiada pernah bosan
Pemandu kebenaran yang tak pernah jemu
Pemberi berita masa lalu yang telah berjalan berabad-abad lamanya
Seakan-akan aku melihat masa-masa itu masih ada

Bukuku bagaikan laut yang tiada pernah habis memberi
Yang selalu memberi harta jika hartaku tiada
Bukuku adalah bukti atas balknya tujuan
Darinya aku mendapatkan bukti dan petunjuk
Jika aku tersesat dari tujuan dia meluruskanku
Jika akalku tersesat dia mengembalikanku dari kesesatan

(Abu bakar AI-Qaffal)



Penerapan Kurikulum 2013 Dihentikan

Polemik Kurikulum 2013 kembali terjadi setelah Pemerintah melalui Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan menghentikan kurikulum tersebut. Anies memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di seluruh Indonesia untuk selanjutnya diperbaiki dan dikembangkan melalui sekolah-sekolah yang sejak Juli 2013 telah menerapkannya.

Dalam laman kemdikbud.go.id, Senin 8 Desember 2014, Anies memaparkan sejumlah alasan yang membuat dia memutuskan bahwa kurikulum 2013 harus dihentikan dan dikembalikan ke Kurikulum 2006. Menurut dia, tidak adanya kajian terhadap penerapan Kurikulum 2006 yang berujung pada kesimpulan urgensi perpindahan kepada Kurikulum 2013.

Anies pun menyebut, tidak ada evaluasi menyeluruh terhadap uji coba  penerapan Kurikulum 2013 setelah setahun penerapan di sekolah-sekolah yang ditunjuk. Kurikulum sudah diterapkan di seluruh sekolah di bulan Juli 2014, sementara instruksi untuk melakukan evaluasi baru dibuat 14 Oktober 2014, yaitu enam hari sebelum pelantikan presiden baru. (Peraturan Menteri no 159)

"Kurikulum 2013 diterapkan di seluruh sekolah sebelum dievaluasi kesesuaian antara ide, desain, dokumen hingga dampak kurikulum," kata dia.

Bukan hanya itu, Anies pun menilai Kurikulum 2013 menggunakan metode penilaian yang sangat kompleks dan menyita waktu sehingga membingungkan guru dan mengalihkan fokus dari memberi perhatian sepenuhnya pada siswa.

Hal ini juga disebabkan oleh ketidaksiapan guru menerapkan metode pembelajaran pada Kurikulum 2013 yang menyebabkan beban juga tertumpu pada siswa sehingga menghabiskan waktu siswa di sekolah dan di luar sekolah.

Selain itu, ketergesa-gesaan penerapan menyebabkan ketidaksiapan penulisan, pencetakan dan peredaran buku sehingga menyebabkan berbagai permasalahan di ribuan sekolah akibat keterlambatan atau ketiadaan buku. Berganti-gantinya regulasi kementerian juga menjadi salah satu penyebab revisi yang berulang. (adi-VIVAnews)



Buku Pegangan Kurikulum Tematik Diperjualbelikan

Para orang tua siswa di Kediri, Jawa Timur, berebut buku pegangan kurikulum tematik yang mulai diperjualbelikan di toko buku. Padahal, buku-buku tersebut seharusnya diberikan gratis oleh pemerintah melalui sekolah.

Sejak dua pekan terakhir, sejumlah toko buku di Kediri ramai diserbu orang tua yang mencari buku tematik, khususnya tingkat sekolah dasar. Mereka mengaku kasihan terhadap proses belajar anaknya yang terganggu karena tak memiliki buku pegangan sama sekali. "Mau belajar apa kalau tak ada buku?" ujar Suliani, orang tua siswa kelas 5 SD Negeri Pojok I Kediri, yang sudah menerapkan kurikulum tematik, Senin, 25 Agustus 2014.

Sejak dimulainya semester pertama tahun ajaran baru 2014/2015 kemarin, pemerintah tak kunjung membagikan buku pegangan tematik kepada sekolah penyelenggara. Hal ini otomatis menyulitkan guru dan siswa yang terpaksa belajar tanpa menggunakan buku sama sekali. Sejumlah guru berinisiatif mencetak soft copy materi tematik yang diterima saat mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Kediri.

Situasi ini tak pelak membuat para orang tua siswa khawatir dengan nilai akademik anak mereka di sekolah. Sebab tak ada yang bisa dilakukan selain mendengar pemaparan materi hasilprint out guru di kelas tanpa bisa mengulangnya di rumah. Beruntung beberapa sekolah berinisiatif menggandakan materi tersebut dan membagikan kepada siswa. Namun tak sedikit yang menggandakan sendiri karena sekolah tak menyediakan.

Ironisnya, di tengah tidak adanya buku pegangan tersebut, sejumlah toko buku di Kediri justru memperjualbelikannya secara bebas. Walhasil, para orang tua pun berebut membeli buku yang jumlahnya terbatas tersebut. Sebagian besar orang tua yang tak kebagian terpaksa memesan kepada pengelola toko untuk disisakan pada pengiriman berikutnya. "Saya sudah pesan dua pekan belum datang juga," kata Feri, orang tua siswa SDN Sukorame II Kediri.

Kondisi ini tak hanya dikeluhkan siswa, namun juga pengajar. Frida Nurma Zahnia, pengajar tematik Sekolah Dasar Plus Rahmat Kediri, yang juga menjadi pendamping guru tematik Dinas Pendidikan Kota Kediri, mengatakan keberadaan buku pegangan ini mutlak dalam pembelajaran Kurikulum 2013.

Pendidikan mustahil dilakukan tanpa adanya buku pegangan guru dan siswa. Keberadaansoft copy yang diberikan Dinas Pendidikan, menurut dia, tidak menyelesaikan persoalan kelangkaan buku tersebut. "Tak semua sekolah memiliki peralatan multimedia," kata pemilik Bimbingan Belajar Persada Ilmu ini.


Frida juga mengaku heran dengan pemilik toko yang sudah menjualnya kepada siswa, meski pemerintah belum mendistribusikannya ke sekolah. Meski hal itu cukup menolong para siswa, seharusnya mereka tak membeli sendiri karena kewajiban tersebut berada pada pemerintah. (HARITRI WASONO)


 

HARI INI

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Follow by Email

Kami ada di Facebook